Solo Societeit Merevitalisasi Panggung Wayang Kulit di Pedesaan Jawa, Hadirkan Ki Wahyu PA Lakon Dewa Ruci

Wahyu Prasetya Aji membawakan lakon “Dewa Ruci”. Foto: dok Solo Societeit

WONOGIRI, SUARASOLO.id

Ada kegelisahan menyelimuti komunitas Solo Societiet tentang sejarah persebaran wayang kulit Gaya Surakarta dan fungsi rumah pedesaan di Jawa dewasa kini. Dalam survai yang dilakukan lembaga nirlaba ini di Wonogiri pada tahun 2024, mengidentifikasi rumah klasik warisan Bapak Katino di Desa Ngrakung yang patut menjadi ‘laboratorium budaya’ untuk mengimplementasikan kajian teoretis tentang fungsi ruang dalam konteks budaya Jawa, termasuk pagelaran wayang kulit.

Dalam menjawab kegelisahan itu, Solo Societeit menggandeng Program Studi Sejarah Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma menggelar pertunjukan wayang kulit climen Gaya Surakarta di Desa Ngrakung, Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogiri pada Sabtu (23/8). Yang menjadi istimewa, pagelaran wayang ini menghadirkan dalang muda yang merupakan mahasiswa Prodi Sejarah USD, Wahyu Prasetya Aji. Ia membawakan lakon “Dewa Ruci”, yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan.

Pesindhen berselfie dalam gelaran wayang kulit lakon Bimo Suci

Kegiatan pagelaran ini tidak hanya bermisi melestarikan tradisi wayang kulit di era kontemporer, tetapi juga sebagai upaya komunitas bersama intelektual kampus untuk merevitalisasi fungsi historis arsitektur rumah Jawa sebagai ruang pertunjukan. Menurut perspektif kajian sejarah arsitektur, pringgitan atau pendapa dalam rumah tradisional Jawa memiliki fungsi penting sebagai panggung wayang yang kini mulai terlupakan.

“Sebagai pegiat komunitas dan akademisi sejarah, saya melihat perkembangan zaman dan kemajuan teknologi tanpa disadari telah melenyapkan keunikan fungsi pringgitan untuk pentas wayang. Hal ini sejatinya merupakan bukti kecerdasan leluhur dalam bidang sejarah dan arsitektur ruang hunian,” ungkap Dr. Heri Priyatmoko, pendiri Solo Societeit yang juga mengajar di Prodi Sejarah USD.

Dari perspektif kajian sejarah lokal, wilayah Desa Ngrakung dikenal memiliki karakteristik masyarakat yang masih memelihara tradisi pewayangan melalui perayaan Rosulan. Secara historis, kawasan ini juga menunjukkan dinamika keberagaman dengan kehadiran kelompok penghayat kejawen, komunitas santri, pengelola Goa Maria Sendang Ratu Kenya, serta SMA Pangudi Luhur St. Vincentius Giriwoyo di bawah Yayasan Katolik.

“Kondisi sosio-kultural seperti ini menjadi objek kajian yang menarik bagi mahasiswa sejarah untuk memahami bagaimana tradisi Surakarta dapat bertahan dan beradaptasi dalam konteks masyarakat yang heterogen,” tambah Heri yang menjelaskan relevansi kegiatan ini dengan misi komunitas dan kurikulum Prodi Sejarah.

Program ini diharapkan dapat menjadi model kolaborasi komunitas-akademik dalam upaya pelestarian warisan budaya yang berbasis riset sejarah dan implementasi lapangan, di tengah tantangan globalisasi dan digitalisasi yang mengancam kelestarian budaya tradisional Kegiatan ini juga berfungsi sebagai media sosialisasi komunitas dan Program Studi Sejarah kepada masyarakat, untuk mengenalkan prospek dan relevansi kajian sejarah dalam konteks pelestarian budaya.

Hal ini diungkapkan oleh Romo Heri Setyawan SJ, S.S., M.A., seorang imam Jesuit dan dosen Prodi Sejarah, yang juga adalah putera daerah asli Giriwoyo. “Saya lahir dan besar di Desa Bawuh, dekat dengan desa ini. Jadi, acara wayangan di rumah simbah Katino ini menjadi sarana saya bernostalgia. Setelah keluar dari desa ini dan bersekolah ke sana kemari, saya bekerja di Prodi Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma. Terbukti prodi kami diminati dari calon mahasiswa berbagai kalangan. Bahkan, Mas Dalang Aji ini ikut mengembangkan diri di Prodi Sejarah, sehingga semakin mantap mendalangnya,” pungkasnya.

Malam itu, ratusan penonton memadati lokasi pagelaran seni. Mereka menikmati suguhan wayang kulit purwa sampai rampung di depan kelir, di pekarangan depan rumah, hingga di belakang kelir yang biasanya dikhususkan untuk keluarga inti. Selain sakral dan mewah, panggung wayang kulit di rumah tua milik Bapak Katino ini juga terlihat anggun. Benar-benar mampu mengembalikan spirit dan kesejatian pertunjukan wayang kulit seperti puluhan tahun silam di Jawa.

C. Gunharjo Leksono

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *